Blog Umumpermenkes air minum

Permenkes Air Minum Sebagai Acuan Standar Air Minum, Termasuk Permenkes Air Bersih

Permenkes air minum diatur ketentuannya pada SK PERMENKES No. 492 Tahun 2010 adalah bagian peraturan tentang kualitas standar air minum.  Permenkes ini juga mengatur tentang Permenkes air bersih, yang tentu kualitas airnya sedikit lebih rendah dari peraturan tentang air minum.

Ketentuan pada Permenkes Air Minum ini bertujuan agar ada acuan yang menjadi standar air minum.  Standar ini sangat penting untuk masyarakat, juga beberapa supplier dan kontraktor yang berkecimpung tentang pengolahan air water treatment.

Kualitas air di Indonesia tentu sangat beragam, karena mempunya beberapa sumber.  Misalnya di daerah rawa, mungkin kualitas air mempunyai tingkat kekeruhan yang tinggi.   Sehingga ketika ingin menjadikan air untuk konsumsi, maka aturan ini menjadi acuan standar kualitas air minum.

Apakah Permenkes dan Tujuannya?

Permenkes adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tentunya ada beberapa Permenkes lainnya yang menaungi standar Departemen Kesehatan.  Khusus untuk bidang yang berhubungan dengan kualitas air, saat ini menggunakan Permenkes Air Minum terbaru adalah SK PERMENKES No. 492 Tahun 2010.

Permenkes lainnya yang hampir sama mengenai kualitas air adalah : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 32 TAHUN 2017, tentang

“STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERSYARATAN KESEHATAN AIR UNTUK KEPERLUAN HIGIENE SANITASI, KOLAM RENANG, SOLUS PER AQUA, DAN PEMANDIAN UMUM”.

Permenkes tentang kualitas air minum sudah beberapa kali mengalami perubahan.  Setiap terjadi perubahan tentunya Permenkes sebelumnya sudah berlangsung beberapa tahun.  Kondisi – kondisi perubahan tentunya mengacu kebutuhan standarisasi yang baru, menyesuaikan perkembangan standar nasional maupun internasional.

Sebelum menggunakan Permenkes air minum yang terbaru ini, standar air minum menggunakan nomor Permenkes 907/Menkes/SK/VII/2002.  Permenkes ini juga mengatur tentang syarat- syarat pengawasan standar air minum.

Permenkes yang lebih lama dari Nomor Permenkes 907 adalah Permenkes Air Bersih No.416 Tahun 1990.  Permenkes nomor 416 ini secara jelas memisahkan standar air minum dan standar air bersih.  Perbedaan yang mencolok standar air minum dan standar air bersih adalah terhadap unsur Mikrobiologi.  Perbedaannya lainnya adalah terhadap nilai TDS, standar air minum TDS 500 ppm dan standari air bersih 1000 ppm.

Tujuan Permenkes Air Minum

Tujuan utama adanya Permenkes air minum adalah menyediakan kualitas air yang aman bagi kesehatan.  Standar air minum yang aman adalah apabila pengujian parameter air memenuhi syarat Kimia, Fisika, Mikrobiologi dan Radioaktif.

Tujuan lainnya adalah masyarakat dan praktisi secara luas, bisa menentukan kualitas air yang baik.  Pembuatan sarana SPAM yang ada di desa dan kabupaten secara kualitas harus mengacu terhadap peraturan ini.

Untuk kontraktor water treatment, permenkes membantu menentukan komponen water treatment.  Pemasangan reverse osmosis akan membantu mendapatkan air yang memenuhi standar air minum.

Selain itu alternatif lainnya dalam bidang water treatment untuk mendapatkan lulus uji permenkes air bersih, adalah menggunakan system ultrafiltrasi.  Dengan system ini akan mendapatkan air bersih yang bebas mikrobiologi dengan mudah.

Dalam pengolahan air minum, terkadang ada kasus TDS air tawar yang agak tinggi.  Pada kondisi ini walaupun sudah memenuhi standar air minum, perlu menambahkan sistem membrane nanofiltrasi agar TDS lebih rendah.

Permenkes Air Minum No. 492 Tahun 2010

Permenkes Air Minum No. 492 Tahun 2010 adalah sebagai pengganti Permenkes yang sebelumnya yaitu Permenkes Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002.

Dengan terbitnya SK Permenkes Air Minum No. 492, maka keputusan Menteri Kesehatan nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 sudah tidak bisa menggunakannya lagi sebagai standar air minum.

Peraturan ini tentunya tidak saja untuk masyarakat luas, namun organisasi, perusahaan dan pihak – pihak yang berhubungan dengan standar air minum bisa mengacu ke peraturan tersebut.

Dengan menjalankan peraturan air minum tersebut, maka setiap penyelenggara air minum wajib untuk memenuhi kualitas produk dengan standar air minum dengan kualitas yang baik bagi kesehatan masyarakat.

SK PERMENKES No. 492 TAHUN 2010 –  Tentang Standar Air Minum DOWNLOAD DISINI.

Untuk perbandingan antara ketentuan yang baru dengan  sebelumnya, silakan download SK PERMENKES No. 907 TAHUN 2002 –  Tentang Standar Air Minum.  Dokumen ketentuannya bisa DOWNLOAD DISINI.

Sejak SK Permenkes Nomor 492 ini berlaku pada tanggal 19 April 2010, maka Keputusan Menteri Kesehatan No.907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat dan pengawasan kualitas air minum sepanjang mengenai persyaratan kualitas air minum tidak menggunakannya lagi.

Permenkes Air Bersih No.416 Tahun 1990

Selain peraturan air minum, pada peraturan yang lebih lama mempunyai peraturan Permenkes Air Bersih tentang kualitas air bersih.

Perbedaan standar kualitas air minum dan air bersih sesungguhnya tidak terlalu signifikan. Perbedaan utamanya adalah pada unsur uji Mikrobiologi dan nilai TDS air.

Sampai sejauh ini belum ada informasi tentang pedoman yang baru Permenkes Air Bersih.  Untuk itu ketentuan standar yang digunakan oleh praktisi water treatment adalah SK PERMENKES No. 416 Tahun 1990 Tentang : Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air .

SK PERMENKES AIR MINUM No. 416 TAHUN 1990 dapat di DOWNLOAD DISINI.

Untuk pengolahan air laut, dengan TDS yang cukup tinggi tujuan pertamanya adalah agar mendapatkan air bersih.  Sehingga kualitas dari proses ini tentunya tidak asin lagi, dan memenuhi standar permenkes air bersih.

Apabila akan meningkatkan kualitas hasil air laut menjadi standar air minum, maka harus menambahkan satu unit reverse osmosis.  Hal ini karena hasil pengolahan air laut pertama terkadang masih mempunyai kadar garam yang masih tinggi.

Bagaimana Syarat Kualitas Air Minum?

Ketentuan syarat kualitas air minum sudah menyebutkan syarat terhadap parameter uji, seperti lampiran Permenkes.  Namun untuk kepentingan praktis, bisa melihatnya secara visual.  Sesuai karakteristik kualitas air minum adalah tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, maka pengamatan visual bisa menjadi acuan sementara.

Apabila pengamatan visual cenderung kualitasnya baik, pada umumnya hasil analisa laboratorium juga cenderung baik.  Hal ini tentu merupakan tindakan spekulasi yang harus mengikutinya dengan pengujian “simple test” seperti pengujian TDS, pengujian Mn, Fe, Hardness, dll.

Apa perbedaannya antara kualitas air minum dan kualitas air bersih?  Perbedaan standar antara air minum dan air bersih tidak terlalu banyak, yaitu mengenai kandungan mikrobiologi dan TDS.  Mikrobiologi dalam hal ini adalah kandungan E-coli dan salmonela.  Sedangkan untuk TDS, pada air minum maksimum 500 ppm dan air bersih 1000 ppm.

Di bawah ini rangkuman standar air minum, sebagai berikut:

Unsur Parameter Fisika:

Parameter fisika meliputi warna, rasa, bau, kekeruhan dan TDS jumlah zat padat terlarut.

 

Unsur Parameter Kimia:

Parameter kimiawi terbagi menjadi dua yaitu kimia organik dan kimia anorganik.  Zat kimia anorganik adalah logam, zat reaktif, zat-zat berbahaya dan beracun.  Sedangkan Zat kimia organik adalah insektisida, herbisida, zat kimia organik mudah menguap, zat-zat berbahaya serta zat pengikat Oksigen.

 

Unsur Parameter Mikrobiologi:

Indikator mikrobiologi biasanya bakteri coliform dan E-coli.  Total coliform menunjukkan adanya pencemaran air bersih oleh tanah atau sumber alamiah lainnya.

Hasil Uji Analisa Air Permenkes Air Minum

Untuk mengetahui kualitas air minum atau kualitas air bersih, hendaknya melakukan Uji Analisa Air Baku.  Uji ini bisa melakukannya di beberapa tempat dengan bebas.  Tujuan hasil uji analisa air tentu bermacam – macam, misalnya untuk kebutuhan sendiri, untuk standarisasi SNI, untuk Pre-Test instalasi pengolahan air, uji baku matu limbah, dll.

Beberapa tempat untuk melakukan uji analisa air yang umum adalah Laboratorium Departemen kesehatan (DepKes), Sucofindo, PDAM, serta beberapa Universitas.

Standar pengujian mempunyai 2 parameter pokok, yaitu  : uji KIMIA – FISIKA dan uji MIKROBIOLOGI.  Umumnya paket pengujian bisa terpisah, misalnya Kimia – Fisika saja.  Pada pengeboran air tanah, pada umumnya hanya memerlukan uji Kimia – Fisika saja.  Namun jika ingin mengetahui E-coli, salmonela, dll., maka membutuhkan uji Mikrobiologi.

Biaya untuk beberapa uji ini sangat bervariasi, tergantung dari penyedia jasa.  Uji analisa di Laboratorium Kesehatan Daerah di Percetakan Negara, tarif untuk Kimia Fisika berkisar Rp. 500,000-an.  Sedangkan untuk uji Analisa Mikrobiologi berkisar Rp. 135.000-an.

Khusus untuk kontraktor water treatment, analisa air baku yang merujuk kepada permenkes air minum ini sangat penting.  Biasanya sebelum menentukan design, maka membutuhkan uji analisa kualitas air bersih atau kualitas air minum.  Dengan mengetahui nilai parameter pada hasil uji, maka design water treatment akan lebih baik.

Lamanya waktu pengujian membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari kerja.  Namun apabila hanya membutuhkan uji Kimia – Fisika saja membutuhkan waktu yang lebih pendek, hanya 7 hari.

Hasil Pemeriksaan Kualitas Air Minum

Untuk mendapatkan kualitas air minum maupun air bersih, tentunya harus memenuhi standar baku mutu yang berdasarkan ketetapan Permenkes Air Minum No. 492 Tahun 2010.

Setelah selesai melakukan pengujian di Laboratorium air, maka akan memperoleh dokumen hasil uji.  Dokumen ini umumnya terdiri dari 2 lembar, yang berisikan hasil Uji Kimia Fisika dan Uji Mikrobiologi.  Hasil dari uji ini tentunya bisa mendapatkan HASIL BAIK dan HASIL KURANG BAIK.

Tidak semua hasil uji bisa mempunyai kecocokan dengan hasil visualnya.  Kesalahan tes ataupun kesalahan sampel material mungkin saja akan terjadi.  Pengalaman tim Mapurna, kesalahan beberapa kali terjadi.  Misalnya, hasil uji air laut yang seharusnya mempunyai TDS > 10.000 tertulis lebih kecil 1000 ppm.  Juga sebaliknya, kualitas air mountain spring seharusnya hanya 100 – 200 ppm, tertulis 8000-an.

Tidak semua hasil uji bisa mempunyai kecocokan dengan hasil visualnya.  Beberapa kali terdapat kekeliruan hasil tes, maupun kesalahan pengambilan sampel uji.  Dengan kondisi seperti ini, terkadang membutuhkan double cek dengan alat portabel sendiri.

Pengalaman tim Mapurna, hasil uji air laut yang seharusnya mempunyai TDS > 10.000 tertulis lebih kecil 1000 ppm.  Juga sebaliknya, kualitas air mountain spring seharusnya hanya 100 – 200 ppm, tertulis 8000-an.  Begitu juga dengan unsur mikrobiologi, sehingga tidak lolos memenuhi standar air minum.

Di bawah ini contoh dari dokumen dari hasil dari salah satu instansi laboratorium:

permenkes air minum
Hasil Uji Kimia Fisika dari Laboratorium DepKes
permenkes air minum
Hasil Uji Mikrobiologi dari Laboratorium DepKes

Uraian mengenai water treatment system yang mendukung kualitas air agar memenuhi standar air minum, dapat melihatnya pada halaman blog kami.  Diskusi langsung dengan tim mapurna via email atau media lainnya seperti WhatsApp, bisa kami response dengan tangan terbuka.